(Silat Aliran Sabeni Tenabang, Zapin, Topeng Blantek SMKN 13 Jakbar)
Selasa, 17 Desember 2013
Kamis, 12 Desember 2013
Uji Pentas Hasil Pelatihan Seni Teater Bagi Pelaku Tingkat Terampil
Ka Unit Pelayanan Teknis
(UPT) Balai Latihan Kesenian (BLK) Jakarta Selatan Ibu Diah Damayanti
mengemukakan bahwa kami dari UPT BLK Jakarta Selatan pada saat ini, khususnya
buat peserta pelatihan seni teater tingkat terampil ingin memperdalam ilmu seni
teater yang telah dibimbing selama ini sejak tingkat dasar, madya, dan
terampil. Karena kalau tidak ketempatnya, yaitu STSI Bandung Jurusan Teater
tentunya anak-anak didik kami belum merasa puas dengan hasil yang telah
diterima selama ini. “Jadi kami ingin juga memperdalam dan ingin menampilkan
serta tentunya nanti ada diskusi hasil dari penampilan dari BLK Jaksel dan juga
Mahasiswa STSI Jurusan seni teater.” ungkapnya disela Kegiatan Uji Pentas Hasil
Pelatihan Seni Teater Bagi Pelaku Tingkat Terampil Senin-Rabu, 28-30 Oktober
2013 di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Jurusan Seni Teater, Bandung, Jawa
Barat. Turut hadir Bapak Herry Tata Usaha BLK Jakarta Selatan, Ibu Wulan Kasi
Pelatihan BLK Jakarta Selatan, Bapak Budi Sobar DKJ, Kang Nurrahmat Praktisi Seni
Teater, Bunda Rima IKJ, Bapak Yadi STSI, Bapak Joko STSI, Kru dan Staf BLK
Jakarta Selatan serta Peserta Pelatihan Seni Teater BLK Jakarta Selatan dan
Mahasiswa/i STSI Jurusan Seni Teater Bandung. Dikesempatan yang sama Bapak Yadi
Dosen Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Jurusan Seni Teater menjelaskan
bahwa kali ini STSI Jurusan Seni Teater mendapatkan penghargaan atas kunjungan
rombongan UPT BLK Jakarta Selatan. Kontek BLK di Bandung adalah Balai Latihan
Kerja dan bukan Balai Latihan Kesenian. Jadi ini point yang sangat menarik bagi
kami, tentu saja kalau kesempatan ini bisa dihadiri oleh temen-temen Dinas
Pariwisata Bandung akan menarik dan merupakan sebuah perbandingan. Kesempatan
ini boleh dikatakan jarang kita bisa melihat dari temen-temen peserta ujian
kompetensi dari program pelatihan Balai Latihan Kesenian Jakarta Selatan.
“Untuk itu tujuan utama yang akan dicapai bahwa perlu adanya masukan baik dari
Mahasiswa maupun Dosen STSI Jurusan Seni Teater Bandung. Nanti setelah
pementasan dari BLK Jaksel juga Mahasiswa STSI, sekali lagi bahwa ini bukan
merupakan atau istilahnya dibanding-bandingkan, tidak? Karena kehidupan
berkesenian adalah bebas. Jadi pada intinya ada sesuatu yang penting dimana
masa diskusi kita saling berbagi antara keilmuan yang telah kita dapat dari
masyarakat dan dari akademis.” tandasnya yang selanjutnya ditandai dengan
saling tukar cindera mata dari pihak STSI memberikan Jurnal Seni STSI dan pihak
BLK Jakarta Selatan memberikan cindera mata miniatur ondel-ondel serta pigam
penghargaan. (ziz)
Jumat, 22 November 2013
Gelanggang Remaja Jakarta Selatan
Budaya Yang Sudah Ada Perlu Dilestarikan dan Dikembangkan
Budaya yang
sudah ada perlu dilestarikan dan dikembangkan dengan pembibitan para
remaja. Kegiatan Kreativitas Budaya Remaja adalah salah satu program
yang dirancang pemerintah untuk mendukung peningkatan kecintaan remaja
terhadap budaya bangsa. Program ini mendorong remaja
untuk lebih berperan aktif dalam berbagai dimensi budaya baik lokal
maupun nasional. Remaja tidak hanya sebagai objek tetapi juga subjek
pembangunan, remaja adalah pelaku, pemanfaat sekaligus pengawas pada
setiap pengembangan budaya baik lokal maupun nasional.
Secara khusus, pelaksanaan program kegiatan ini meluncurkan program
pelestarian budaya dengan menggandeng remaja. Pelestarian budaya
dilakukan dengan melaksanakan pentas kreativitas seni dari masing-masing
peserta. Program ini sangat efektif mengarahkan potensi
remaja dengan mendorong kreativitas mereka untuk berkesenian. Aktivitas
budaya juga diyakini mampu menghindarkan remaja dari prilaku negatif
disamping juga berfungsi sebagai bentuk konservasi budaya. Pentas
kreativitas seni tersebut berlangsung di Aula Village
Villa Cikeretek, Bogor, Jawa Barat, Rabu-Jum’at, 20-22 November 2013
lalu yang diselenggarakan dan dihadiri oleh Pejabat Gelanggang Remaja
Jakarta Selatan, Pengurus Remaja Ceria Indonesia, Perwakilan Pembina
Siswa/I SMA/SMK Se Jakarta Selatan dan Narasumber
yang berkompeten dibidangnya. Proses pemusatan kreativitas seni remaja
tersebut dilakukan dengan intensitas lebih dari 5 (lima) kali pertemuan.
Kegiatan ini setidaknya melibatkan 100 (seratus) peserta dari
perwakilan SMA/SMK Se Jakarta Selatan. Persiapan yang
cukup ternyata tidak mengurangi performa para peserta dalam menunjukkan
aksinya. Diharapkan program semacam ini bisa dilaksanakan secara
berkesinambungan untuk mencari bibit serta melestarikan kebudayaan
sesuai dengan konsep “Jakarta Baru, Jakarta Kita”
yang terus didengungkan. (ziz)
Selasa, 19 November 2013
Jumat, 15 November 2013
Kesbangpol Jakarta Selatan
Diperlukan Penanaman Bela Negara dan HAM Sejak Dini Kepada Masyarakat
Kegiatan Work Shop Identifikasi Serta
Pencegahan Pelanggaran HAM di Perkotaan ini adalah program Kantor Kesatuan
Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Administrasi Jakarta Selatan Tahun 2013
yang bertujuan untuk meningkatkan wawasan HAM dengan melalui langkah kebijakan
HAM di wilayah Kota Administrasi Jakarta Selatan. Demikian dikemukakan Indra
Yuswar Kasubdit Pengembangan Demokrasi dan HAM sekaligus Pelaksana Kegiatan
yang baru saja dilantik sebagai Kasubdit Kewaspadaan, belum lama ini disela
kegiatan Workshop Identifikasi HAM di Evergreen, Cisarua, Puncak, Bogor, Jawa
Barat. Turut hadir Rustam Effendi Wakil Walikota Administrasi Jakarta Selatan,
Tafdil Ka Kesbangpol Jakarta Selatan, Firdaus Turmudzi Dewan Kota Jakarta
Selatan, I Ketut Sudarsana Kasubbag Kumbag Sumda Polres Jakarta Selatan, dan
para peserta pengurus Perkumpulan Rukun Warga Rukun Tetangga (Perwata) dan
pengurus Organisasi Masyarakat dan Kepemudaan Se Jakarta Selatan. Dijelaskannya
bahwa kegiatan ini diselenggarakan dengan metode diskusi, ceramah, dan permainan
(out door) selama tiga hari dalam rangka mencari solusi penanganan pelanggaran
HAM yang marak terjadi akhir-akhir ini, khususnya di wilayah Jakarta Selatan. “Oleh
karena itu sangat diperlukannya penanaman kecintaan bela Negara dan pengetahuan
HAM sejak dini, sehingga masyarakat dapat mengantisipasi dan meminimalisir pelanggaran
HAM di wilayah masing-masing.” jelasnya. Selain itu, penyamaan
visi, persepsi dan penafsiran segenap komponen masyarakat sangat perlu diupayakan dalam rangka mewujudkan ketertiban dan ketaatan berdasarkan
peraturan hukum yang berlaku. "Melalui kegiatan ini diharapkan nantinya akan terbentuk sikap
dan prilaku yang saling menghargai hak-hak orang lain dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bertanegara.” tegasnya. Dikesempatan yang sama Suranto
PW Ketua Perwata Jakarta Selatan mengatakan bahwa maju-mundurnya penegakkan HAM sangat bergantung pada tingkat peran serta
masyarakat. Semakin masyarakat aktif berpartisipasi dalam penegakkan HAM,
kondisi HAM semakin baik. Sebaliknya, semakin pasif masyarakat, kondisi HAM
semakin memburuk. “Selain itu peran serta organisasi masyarakat seperti Perwata yang notabene anggotanya adalah
para ketua RT dan RW ini juga dibutuhkan kesediaan untuk melibatkan diri secara aktif dalam mensosialisasikan pentingnya pengetahuan tentang HAM
ditengah-tengah masyarakat yang dipimpinnya.” imbuhnya. (ziz)
(Sumber : Kegiatan Work Shop Identifikasi HAM, Kesbangpol, Jaksel, Evergreen, Cisarua, Puncak, Bogor, 13-15/11/13)
Minggu, 03 November 2013
Budaya Tak Benda Budaya Hidup
Salah satu upaya perlindungan terhadap warisan
budaya adalah melalui pencatatan. Kegiatan warisan budaya bangsa telah dimulai
sejak zaman kerajaan-kerajaan dan masa kolonial, dan dilanjutkan setelah
merdeka pada 17 Agustus 1945 oleh berbagai pemangku kepentingan, baik dari
kalangan pemerintah, LSM, perguruan tinggi, dan perorangan. Pencatatan
menyeluruh tentang warisan budaya tak benda pernah diusahakan sejak tahun 1976
melalui proyak inventarisasi dan dokumentasi kebudayaan daerah. Kegiatan
pencatatan kemudian berganti nama beberapa kali, antara lain : Sistem Informasi
Kebudayaan Terpadu (SIKT) yang digagas oleh Prof. Dr. Edi Sedyawati (Dirjen
Kebudayaan pada waktu itu) dan Peta Budaya yang digagas oleh Prof. Dr. Sri
Hastanto, S. Kar (Dirjen Nilai Budaya, Seni dan Film pada waktu itu). Namun
pencatatan tersebut masih menghadapi kendala. Sampai saat ini pencatatan
warisan budaya tak benda Indonesia belum berhasil dilakukan secara menyeluruh
dan berkesinambungan antara lain karena kurang melibatkan unsur komunitas,
kelompok sosial, dan perseorangan. Sejak Indonesia menjadi negara pihak konvensi 2003
tentang perlindungan warisan budaya tak benda, Indonesia diwajibkan sesuai
pasal 11 dan 12 Konvensi 2003 untuk mengatur identifikasi dan inventarisasi
warisan budaya tak benda yang ada di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia
dalam satu atau lebih invenmtaris yang dimutakhirkan secara berkala. Pasal 2 Ayat 1 dan 2 Konvensi 2003 UNESCO : “Warisan budaya tak
benda meliputi segala praktek, representasi, ekspresi, pengetahuan,
keterampilan serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya
terkait dengannya yang diakui oleh berbagai komunitas, kelompok, dan dalam hal
tertentu perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka” Warisan budaya tak benda, sebagaimana didefinisikan
dalam ayat 1 diatas, diwujudkan antara lain di bidang-bidang berikut : Tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai
wahana warisan budaya tak benda; Seni pertunjukan; Adat istiadat masyarakat, ritus, dan
perayaan-perayaan; Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenal alam
dan semesta; Kemahiran kerajinan tradisional. Budaya tak benda juga dikenal dengan istilah “budaya hidup” (ziz)
(Sumber
: Diskusi Budaya, LP2SM, HUMANIKA, Yayasan Peduli Bangsa, Dirjen
kesbanpol Kemendagri, 2 November 2013)
Sabtu, 14 September 2013
Balai Latihan Kesenian Jakarta Selatan
Peran
Guru Sebagai Tenaga Pendidik Sangat Penting
Teks Foto :
Diah Damayanti, MM (baju ungu tengah) Beserta Para Pelatih Dan Peserta Pelatihan Seni Tk Dasar Bagi Guru Sekolah Dasar Tahun 2013.
(Jakarta, PBS) Pelatihan seni bagi guru
sekolah dasar tingkat dasar Jakarta Selatan tahun 2013 kali ini tidak
diselenggarakan di Balai Latihan Kesenian (BLK) Asem Baris Jakarta Selatan
karena gedungnya sedang dalam pemugaran total. Semoga nantinya gedung Balai
Latihan Kesenian (BLK) Asem Baris Jakarta Selatan menjadi lebih bagus dan
lengkap sarana prasarananya dalam menunjang penyelenggaraan pelatihan seni di
tahun-tahun mendatang. Demikian dikemukakan Diah Damayanti, MM Kepala Balai
Latihan Kesenian Asem Baris Jakarta Selatan dalam kata sambutannya pada
kegiatan pelatihan seni bagi guru sekolah dasar tingkat dasar Jakarta Selatan
tahun 2013 di halaman SMPN 1 Manggarai Selatan belum lama ini. Menurutnya peran
guru sebagai tenaga pendidik sangat penting, khususnya guru sekolah dasar. Sebagai
motivator awal bagi anak-anak yang baru mengenal pendidikan dibidang kesenian. Melalui
kerja kreatif guru, khususnya guru kesenian dapat dikembangkan dan disesuaikan dengan
usia anak melalui imajinasi serta kreasi anak. “Pelaksanaan belajar mengajar
kesenian dapat berjalan dengan baik berdasarkan metode pengajaran yang benar, dalam
rangka membentuk anak didik memiliki sikap apresiatif terhadap budaya bangsa,”
jelasnya. Sementara itu, setelah pelatihan seni ini diharapkan dapat meningkatkan
wawasan dan keterampilan para peserta beberapa bidang seni yang didapat untuk
diterapkan disekolah masing-masing. “Nantinya akan dilanjutkan pelatihan seni
berjenjang (dasar, madya, mahir) dan kami Balai Latihan Kesenian Asem Baris
Jakarta Selatan terus berusaha untuk membasilitasi para peserta, tentunya
dengan mengundang para pelatih yang berkompeten pada bidangnya masing-masing,
seperti para praktisi/akademisi Institut Kesenian Jakarta serta Universitas
Negeri Jakarta,” imbuhnya. (ziz)
Langganan:
Postingan (Atom)










